Hari ini aku menuliskan sepenggal kisah
dari ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta,
Tangerang. Ruang tunggu tak seramai hari-hari biasanya. Yah, maklumlah aku
memutuskan memilih jam penerbangan siang tepat di Hari Raya Idul Adha. Selesai
shalat Ied, aku masih sempat mencicipi lontong sayur dan rujak buatan bude yang
enaknya luar biasa. Berhubung hari raya, mbakku, pakde, dan bude tidak bisa
mengantar ke bandara. Aku pun tidak begitu suka diantar ke bandara. Karena menurutku
bandara adalah tempat perpisahan yang paling tak mengenakkan. Aku menumpangi
taksi dari rumah di daerah Kebon Jeruk menuju bandara. Keberangkatanku dilepas
dengan tangisan bude yang sedihnya bukan main.
Ya, hampir dua bulan sudah aku menjalani
hari-hari di ibukota. Tujuannya satu, mengejar karir dan cita-cita. Ya, aku
sudah bertekad pascawisuda untuk menjajal peruntungan di dunia jurnalistik.
Pilihannya cuma satu, Jakarta. Sayangnya peruntunganku agak sedikit meleset.
Justru aku bertahan di ibukota dan harus melakukan semua sendiri demi mengikuti
serangkaian proses seleksi di salah satu Bank BUMN ternama. Pikirku saat itu,
tak masalah sambilan menunggu panggilan tes selanjutnya dari salah satu
televisi swasta yang pernah kuikuti. Tapi rencanaku meleset. Proses recruitment
televisi swasta itu berjalan lebih lama dari yang kubayangkan. Sedangkan proses
seleksi di Bank BUMN yang tak sengaja kuikuti justru sudah memasuki tahap
medical check up, oh no!
Berselang seminggu sudah pasca medical
check up aku belum dihubungi untuk tahapan selanjutnya. Permintaan Mama dan Papa
akhirnya mau tak mau membuatku harus pulang dahulu kembali ke Aceh. Ya
sudahlah. Saat itu aku sudah mulai berpikir, kembali sama artinya aku harus
memulai semuanya yang baru saja akan aku jalani dari NOL! Keterbatasan ruang
gerak untuk melakukan hal yang bisa mempermudah pencapaian cita-citaku dan
tentu saja memulai kembali untuk memeroleh ijin merantau!
Ah sudahlah, kurasa cukup. Jika diteruskan
mungkin aku bisa menghabiskan berjam-jam untuk mencurahkan semuanya.
Kemungkinan besar juga aku akan ketinggalan pesawat karena terlalu asyik
bercerita. Aku teruskan lagi nanti (tepatnya entah kapan, hhe..) [PA]
![]() |
| Foto ini diambil di ruang tunggu keberangkatan |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar