Terkadang
komunikasi yang memisahkan kita, tapi komunikasi juga yang akhirnya mampu
menyatukan kembali silaturahmi yang terputus (Nina Septiani)
Sepenggal kalimat
dengan tagar #ShareofMe yang dikutip dari akun instagram Nina Septiani seperti
tanda pengingat di pagi pertama Desember ini. Hal sepele yang terkadang
disadari atau tidak sering kita lupakan. Menjaga komunikasi. Komunikasi menjadi
salah satu bentuk silaturahmi yang sering kali dianggap sepele. Terlebih lagi
jika antara satu individu dengan individu lainnya saling berjauhan.
Ya,
tanpa bermaksud menasehati siapapun, hal ini seperti renungan untuk diri saya
sendiri. Benar sekali seperti apa yang dikatakan Nina, komunikasi kadangkala
menjadi pemisah selain jarak. Sebaliknya jarak bisa dihapus dengan adanya
komunikasi. Hal yang sama terjadi pada saya dan beberapa teman. Semasa kuliah
rasa-rasanya hampir tidak ada hari yang dilalui tanpa bersama mereka. Namun
saya sadar, ketika kami lulus dan menjalani kehidupan masing-masing, segalanya
tak bisa lagi sama. Terlebih ketika kami sudah tidak lagi berada di kota yang
sama. Percaya atau tidak, ada diantara kami yang bahkan mungkin dalam berbulan-bulan
sama sekali tidak pernah bertegur sapa. Padahal banyak sekali akses canggih
yang bisa digunakan. SMS, telepon, BBM, Whatsapp, bahkan menurut saya tidak ada
salahnya menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram atau
Path hanya untuk sekadar berkata, “Hai, apa kabar?” Mungkin tampaknya seperti
basa-basi yang sangat basi dan klise atau apapun istilahnya itu. Tapi percayalah,
walau hanya sekadar “Hai, apa kabar?” bisa berarti banyak bagi yang
menerimanya. Si penerima akan merasa dihargai, diperhatikan, atau apapun itu.
Masalahnya adalah ketika tidak ada yang mau memulai “Hai, apa kabar?” Kadang
mengedepankan alasan “Dia aja nggak pernah nyapa duluan” jadi senjata paling
pamungkas untuk menunjukkan betapa egoisnya kita. Padahal sepenggal kata yang
dianggap basa-basi itu bisa jadi pembuka jalan untuk silaturahmi yang selama
ini nyaris terputus.
Alasan
pamungkas lain adalah kesibukan. Oh, tidak! Untuk alasan yang satu ini hampir
tidak ada yang bisa membantah. Benar adanya, kesibukan masing-masing sering
kali menghalangi untuk berkomunikasi. Saya pun pernah bahkan sering menggunakan
alasan ini, sebelumnya. Tapi sekarang harus disadari, sesibuk-sibuknya kita
akan ada lima menit waktu luang hanya untuk mengetik sebaris pesan “Hai, apa
kabar?” Jangan berharap orang yang dikirimi pesan akan membalas saat itu juga. Toh
pada dasarnya apapun yang kita lakukan tidak baik jika selalu mengharap
balasan. Demikian halnya ketika memulai kembali silaturahmi. Yang terpenting
adalah niat. Niat untuk tidak memutuskan komunikasi dan menjaga silaturahmi. Jarak
boleh jadi membuat kita tidak bisa saling mengunjungi ketika ada yang sakit
atau mendapat musibah. Tapi jarak tidak akan membatasi kita untuk saling
menguatkan dan mendoakan walau hanya lewat pesan singkat. Jarak boleh membuat
kita tidak bisa mendampingi masa-masa bahagia dalam hidup seorang sahabat. Tapi
sekali lagi, jarak tidak membatasi kita untuk sekadar berbagi berita bahagia bersama
orang-orang terdekat. Ah ya, menjaga komunikasi itu luar biasa pentingnya di
saat kita berjauhan atau terbatas ruang gerak untuk bertatap muka. Komunikasi
adalah salah satu cara sederhana untuk menjaga silaturahmi. Karena komunikasi
juga yang akhirnya mampu menyatukan kembali silaturahmi yang terputus. Siapa
yang bisa membantah keutamaan menjaga tali silaturahmi. Rasulullah SAW. bersabda:
“Siapa yang hendak diluaskan
rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali
silaturahmi.” (HR. Bukhari 5986 & Muslim 2557)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar