Senin, 01 Desember 2014

Komunikasi dan Silaturahmi

Terkadang komunikasi yang memisahkan kita, tapi komunikasi juga yang akhirnya mampu menyatukan kembali silaturahmi yang terputus (Nina Septiani)
Sepenggal kalimat dengan tagar #ShareofMe yang dikutip dari akun instagram Nina Septiani seperti tanda pengingat di pagi pertama Desember ini. Hal sepele yang terkadang disadari atau tidak sering kita lupakan. Menjaga komunikasi. Komunikasi menjadi salah satu bentuk silaturahmi yang sering kali dianggap sepele. Terlebih lagi jika antara satu individu dengan individu lainnya saling berjauhan. 

Ya, tanpa bermaksud menasehati siapapun, hal ini seperti renungan untuk diri saya sendiri. Benar sekali seperti apa yang dikatakan Nina, komunikasi kadangkala menjadi pemisah selain jarak. Sebaliknya jarak bisa dihapus dengan adanya komunikasi. Hal yang sama terjadi pada saya dan beberapa teman. Semasa kuliah rasa-rasanya hampir tidak ada hari yang dilalui tanpa bersama mereka. Namun saya sadar, ketika kami lulus dan menjalani kehidupan masing-masing, segalanya tak bisa lagi sama. Terlebih ketika kami sudah tidak lagi berada di kota yang sama. Percaya atau tidak, ada diantara kami yang bahkan mungkin dalam berbulan-bulan sama sekali tidak pernah bertegur sapa. Padahal banyak sekali akses canggih yang bisa digunakan. SMS, telepon, BBM, Whatsapp, bahkan menurut saya tidak ada salahnya menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram atau Path hanya untuk sekadar berkata, “Hai, apa kabar?” Mungkin tampaknya seperti basa-basi yang sangat basi dan klise atau apapun istilahnya itu. Tapi percayalah, walau hanya sekadar “Hai, apa kabar?” bisa berarti banyak bagi yang menerimanya. Si penerima akan merasa dihargai, diperhatikan, atau apapun itu. Masalahnya adalah ketika tidak ada yang mau memulai “Hai, apa kabar?” Kadang mengedepankan alasan “Dia aja nggak pernah nyapa duluan” jadi senjata paling pamungkas untuk menunjukkan betapa egoisnya kita. Padahal sepenggal kata yang dianggap basa-basi itu bisa jadi pembuka jalan untuk silaturahmi yang selama ini nyaris terputus.

Alasan pamungkas lain adalah kesibukan. Oh, tidak! Untuk alasan yang satu ini hampir tidak ada yang bisa membantah. Benar adanya, kesibukan masing-masing sering kali menghalangi untuk berkomunikasi. Saya pun pernah bahkan sering menggunakan alasan ini, sebelumnya. Tapi sekarang harus disadari, sesibuk-sibuknya kita akan ada lima menit waktu luang hanya untuk mengetik sebaris pesan “Hai, apa kabar?” Jangan berharap orang yang dikirimi pesan akan membalas saat itu juga. Toh pada dasarnya apapun yang kita lakukan tidak baik jika selalu mengharap balasan. Demikian halnya ketika memulai kembali silaturahmi. Yang terpenting adalah niat. Niat untuk tidak memutuskan komunikasi dan menjaga silaturahmi. Jarak boleh jadi membuat kita tidak bisa saling mengunjungi ketika ada yang sakit atau mendapat musibah. Tapi jarak tidak akan membatasi kita untuk saling menguatkan dan mendoakan walau hanya lewat pesan singkat. Jarak boleh membuat kita tidak bisa mendampingi masa-masa bahagia dalam hidup seorang sahabat. Tapi sekali lagi, jarak tidak membatasi kita untuk sekadar berbagi berita bahagia bersama orang-orang terdekat. Ah ya, menjaga komunikasi itu luar biasa pentingnya di saat kita berjauhan atau terbatas ruang gerak untuk bertatap muka. Komunikasi adalah salah satu cara sederhana untuk menjaga silaturahmi. Karena komunikasi juga yang akhirnya mampu menyatukan kembali silaturahmi yang terputus. Siapa yang bisa membantah keutamaan menjaga tali silaturahmi. Rasulullah SAW. bersabda:
“Siapa yang hendak diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari 5986 & Muslim 2557)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar