Minggu, 22 Juni 2014

Sepenggal Kisah Di Balik Nasi Briyani

Rutinitas saya setiap pagi setelah shalat Subuh adalah mulai membuat cake-cake yang sudah menanti dalam list order. Biasanya menjelang pukul 08.00 pagi saya suka menyalakan TV dan menyimak perkembangan berita. Program pagi favorit saya Editorial Media Indonesia dan 8-11 Show. Tapi tiga minggu belakangan ini saya malas menyimak aneka program berita dari saluran televisi berita manapun. Pasalnya jelas, menjelang pilpres 9 Juli nanti, dua saluran televisi yang sebut saja TV Biru dan TV Merah jelas-jelas menjadi corong kaum-kaum dan partai-partai berkepentingan dari dua kubu yang akan berlaga di pilpres 9 Juli nanti.

Baiklah, poin utama tulisan ini bukan tentang isu politik yang tak usai untuk dibahas. Yang terpenting sebagai orang dengan latar belakang pendidikan media, saya tak boleh terjerumus ke dalam agenda setting yang dibuat oleh media. Jadi, pagi ini saya mencoba untuk tidak muak dan menyimak berita. Saya memilih menyimak Reportase Pagi. Tetap menghindari segmen hard news 1), sayapun memilih menyimak segmen soft news 2) yang pada saat itu menayangkan cerita tentang seorang anak yang menjadi pemulung demi melanjutkan pendidikan. Seketika pikiran saya teringat pada sosok seorang anak kecil yang pernah saya jumpai  di Cane Mamak sekitar sepuluh hari yang lalu.

Saat itu saya dan seorang teman sedang mengobrol sembari menanti hujan reda di Cane Mamak, sebuah tempat makan favorit berbagai kalangan di kota saya. Saat itu jam menunjukkan pukul 08.00 malam. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba seorang bocah laki-laki datang menghampiri meja kami. Ia menenteng sebuah kotak yang tulisannya sudah pudar. Saya rasa spidol yang digunakan untuk menulis itu bukan anti luntur. Dengan pakaian lusuh tapi rapi dan sebuah peci kecil usang di kepalanya, dia mendatangi tiap meja. Saat tiba di meja kami teman saya seketika menangkupkan tangan di depan dada dan berkata, “Meu’ah dek beuh” 3). Saya tidak terlalu menghiraukan pada awalnya. Tapi bocah laki-laki itu tidak lantas beranjak seperti peminta-minta umumnya ketika tak diberi uang. Dia lalu berkata ke arah saya, “Kak, lakee bu bacut jeut?” Disitu hati saya seketika berdesir. Ya, sejujurnya saya paling tak tahan melihat anak kecil yang meminta-minta. Sejenak saya diam sambil melihat wajahnya. Anak ini sepertinya anak baik, hanya itu yang terlintas dalam pikiran saya. Lalu saya memanggil seorang pelayan dan meminta dibungkuskan nasi briyani yang sama seperti yang kami makan. Anak itu hanya berdiri beberapa menit tanpa berkutik. Lalu dia meminta diri untuk mendatangi meja-meja lain terlebih dahulu. Saya pun mengiyakan lalu melanjutkan obrolan yang terputus tadi dengan teman saya. Lalu tiba-tiba teman saya mengatakan, “Put, coba deh panggil anak itu. Tanya dari mana asalnya, sama siapa dia kemari, untuk apa uang hasil minta-minta itu.  Aku rasa dia ada yang nyuruh.” Ah ya, teman saya ini naluri jurnalisnya kuat sekali. Saya sendiri tak terpikir sampai kesitu. Sudah lama sekali saya memang merasa “sense of ‘journalist’” saya menguap entah kemana. Padahal dulu saya paling tajam soal investigasi dan ingin tahu banyak hal.

Saya memanggil bocah laki-laki itu dan meminta duduk semeja dengan kami. Tapi dia tidak mau dan memilih berdiri saja di dekat saya sambil tetap memeluk kotak sumbangan di depan dadanya. Teman saya meminta saya untuk berbicara dengan bocah laki-laki itu. Karena dia tidak paham bahasa Aceh dan si bocah laki-laki itu pun tak terlalu paham bahasa Indonesia. Saya juga sebenarnya tak terlalu fasih dengan dialek Aceh. Tapi lidah saya jelas lebih baik dalam hal ini dibanding teman saya tersebut.

Dari perbincangan singkat kami, saya ketahui nama bocah laki-laki tersebut adalah Irwansyah. Dia berasal dari Aceh Timur. Dia ke Banda Aceh bersama dengan tiga orang temannya dan mendiami sebuah rumah sewa di daerah Seutui. Sayapun bingung bagaimana mungkin bocah sekecil dia bisa membayar uang sewa rumah. “Pasti ada yang mengorganisir mereka,” teman saya berujar yakin. Tapi kata Irwan rumah itu adalah milik saudara temannya. Dia dan ketiga temannya pergi ke daerah Lamteh, lokasi tempat kami berada saat itu dengan menumpang becak. Ketika saya bertanya padanya mana kedua temannya, dia berkata bahwa mereka berpencar pada tiga tempat makan berbeda. Saya pun bertanya bagaimana dengan sekolahnya. Irwan mengaku sudah kelas dua SMP, dia ke Banda Aceh sesekali untuk mencari uang dengan meminta-minta. Menurut penuturannya kedua orang tuanya sudah meninggal. Awalnya dia tidak mengutarakan penyebabnya. Sempat saya berpikir mungkinkah kedua orang tuanya meninggal saat konflik? Maka saya pun tidak menanyakan lagi hal itu. Dia mengaku hanya tinggal bersama seorang kakaknya yang saat ini duduk di bangku SMA dan abang tertuanya. Saya bertanya apakah abangnya yang menyuruh dia pergi ke Banda Aceh dan menjadi peminta-minta. Ternyata dia menjawab tidak, dia pergi kemari karena keinginan sendiri, ikut teman katanya. Kata Irwan abangnya bekerja sebagai nelayan. Hanya seminggu sekali saja pulang, itupun tak tentu. Ketika saya bertanya apakah abangnya tidak memberikan uang untuknya, Irwan mengatakan hanya sesekali, kadang ada kadang tidak. Sekali lagi saya tak bermaksud skeptis, saya tidak tahu apakah penuturannya jujur atau tidak. Saya hanya cukup senang anak ini ternyata bersekolah, itu saja. Ketika saya mengulang pertanyaan tentang orang tuanya, akhirnya ia mengatakan ayah dan ibunya meninggal karena penyakit diabetes. Bagi saya itu cukup, yang terpenting bocah kecil yang kurang beruntung ini tidak menjadi alat orang tuanya untuk mencari uang. Tak lama kemudian nasi briyani hangat yang sudah dibungkus rapi pun sampai. Sebelum bungkusan itu saya berikan padanya saya hanya berpesan, dia harus rajin belajar, rajin mendoakan orang tuanya, jadi orang yang jujur, dan uang yang dia peroleh itu harus dimanfaatkan untuk keperluan sekolahnya. Ia pun pamit dan menyalami kami sambil mengucap terima kasih dan doa. Saya mengaminkan dalam hati.

Sepeninggalan bocah itu teman saya geleng-geleng kepala. Dia masih tak yakin bocah sekecil itu punya inisiatif sendiri untuk meminta-minta tanpa ada yang mengorganisir. Mungkin ada benarnya juga pendapat teman saya ini. Tapi saya tidak mau terlalu ambil pusing, toh saya tidak memberikan uang. Lagipula menurut saya, saat dia tidak memeroleh uang lalu dia dia meminta makan, mungkin dia memang benar-benar lapar.


Cerita ini saya tulis tanpa bermaksud riya’. Saya hanya ingin berbagi kisah dan membuka pandangan kita bersama bahwa mungkin memang ada orang-orang yang mengorganisir anak-anak sekecil mereka untuk meminta-minta. Siapa pun mereka, meskipun itu orang tuanya, mereka harus diberi sanksi karena mengeksploitasi anak di bawah umur. Ini juga pelajaran untuk kita bersama agar sebaiknya tidak memberikan uang pada peminta-minta yang masih anak-anak. Alangkah baiknya memberikan makanan. Toh dengan begitu kita tidak memperkaya orang-orang tak berhati yang mengeksploitasi mereka. [PA]



    1)Hard news adalah berita penting yang harus disampaikan langsung ke publik dan tidak bisa ditunda pemberitaannya karena akan cepat basi dan sifatnya aktual
   2)Soft news adalah berita yang dari segi isi tidak terlalu berat, umumnya tidak terlalu lugas, tidak kaku atau ketat, khususnya dalam soal waktu
     3)Mohon maaf ya, Dik
1

2 komentar:

  1. nice story put. btw bagi kue laaa :D :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakak ini sibuk jalan-jalan sih, kapan mau dibagi kuenya :D

      Hapus