Rutinitas saya setiap pagi
setelah shalat Subuh adalah mulai membuat cake-cake yang sudah menanti dalam list order. Biasanya menjelang pukul 08.00
pagi saya suka menyalakan TV dan menyimak perkembangan berita. Program pagi
favorit saya Editorial Media Indonesia dan 8-11 Show. Tapi tiga minggu
belakangan ini saya malas menyimak aneka program berita dari saluran televisi berita
manapun. Pasalnya jelas, menjelang pilpres 9 Juli nanti, dua saluran televisi yang
sebut saja TV Biru dan TV Merah jelas-jelas menjadi corong kaum-kaum dan
partai-partai berkepentingan dari dua kubu yang akan berlaga di pilpres 9 Juli nanti.
Baiklah, poin utama tulisan ini
bukan tentang isu politik yang tak usai untuk dibahas. Yang terpenting sebagai
orang dengan latar belakang pendidikan media, saya tak boleh terjerumus ke
dalam agenda setting yang dibuat oleh
media. Jadi, pagi ini saya mencoba untuk tidak muak dan menyimak berita. Saya
memilih menyimak Reportase Pagi. Tetap menghindari segmen hard news 1), sayapun memilih menyimak segmen soft news 2) yang pada saat
itu menayangkan cerita tentang seorang anak yang menjadi pemulung demi
melanjutkan pendidikan. Seketika pikiran saya teringat pada sosok seorang anak
kecil yang pernah saya jumpai di Cane
Mamak sekitar sepuluh hari yang lalu.
Saat itu saya dan seorang teman
sedang mengobrol sembari menanti hujan reda di Cane Mamak, sebuah tempat makan
favorit berbagai kalangan di kota saya. Saat itu jam menunjukkan pukul 08.00
malam. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba seorang bocah laki-laki datang
menghampiri meja kami. Ia menenteng sebuah kotak yang tulisannya sudah pudar.
Saya rasa spidol yang digunakan untuk menulis itu bukan anti luntur. Dengan
pakaian lusuh tapi rapi dan sebuah peci kecil usang di kepalanya, dia
mendatangi tiap meja. Saat tiba di meja kami teman saya seketika menangkupkan
tangan di depan dada dan berkata, “Meu’ah dek beuh” 3). Saya tidak
terlalu menghiraukan pada awalnya. Tapi bocah laki-laki itu tidak lantas
beranjak seperti peminta-minta umumnya ketika tak diberi uang. Dia lalu berkata
ke arah saya, “Kak, lakee bu bacut jeut?” Disitu hati saya seketika berdesir.
Ya, sejujurnya saya paling tak tahan melihat anak kecil yang meminta-minta.
Sejenak saya diam sambil melihat wajahnya. Anak ini sepertinya anak baik, hanya
itu yang terlintas dalam pikiran saya. Lalu saya memanggil seorang pelayan dan
meminta dibungkuskan nasi briyani yang sama seperti yang kami makan. Anak itu
hanya berdiri beberapa menit tanpa berkutik. Lalu dia meminta diri untuk
mendatangi meja-meja lain terlebih dahulu. Saya pun mengiyakan lalu melanjutkan
obrolan yang terputus tadi dengan teman saya. Lalu tiba-tiba teman saya
mengatakan, “Put, coba deh panggil anak itu. Tanya dari mana asalnya, sama
siapa dia kemari, untuk apa uang hasil minta-minta itu. Aku rasa dia ada yang nyuruh.” Ah ya, teman
saya ini naluri jurnalisnya kuat sekali. Saya sendiri tak terpikir sampai
kesitu. Sudah lama sekali saya memang merasa “sense of ‘journalist’” saya menguap entah kemana. Padahal dulu saya
paling tajam soal investigasi dan ingin tahu banyak hal.
Saya memanggil bocah laki-laki
itu dan meminta duduk semeja dengan kami. Tapi dia tidak mau dan memilih
berdiri saja di dekat saya sambil tetap memeluk kotak sumbangan di depan
dadanya. Teman saya meminta saya untuk berbicara dengan bocah laki-laki itu.
Karena dia tidak paham bahasa Aceh dan si bocah laki-laki itu pun tak terlalu
paham bahasa Indonesia. Saya juga sebenarnya tak terlalu fasih dengan dialek
Aceh. Tapi lidah saya jelas lebih baik dalam hal ini dibanding teman saya tersebut.
Dari perbincangan singkat kami,
saya ketahui nama bocah laki-laki tersebut adalah Irwansyah. Dia berasal dari
Aceh Timur. Dia ke Banda Aceh bersama dengan tiga orang temannya dan mendiami
sebuah rumah sewa di daerah Seutui. Sayapun bingung bagaimana mungkin bocah sekecil
dia bisa membayar uang sewa rumah. “Pasti ada yang mengorganisir mereka,” teman
saya berujar yakin. Tapi kata Irwan rumah itu adalah milik saudara temannya. Dia
dan ketiga temannya pergi ke daerah Lamteh, lokasi tempat kami berada saat itu dengan
menumpang becak. Ketika saya bertanya padanya mana kedua temannya, dia berkata
bahwa mereka berpencar pada tiga tempat makan berbeda. Saya pun bertanya
bagaimana dengan sekolahnya. Irwan mengaku sudah kelas dua SMP, dia ke Banda
Aceh sesekali untuk mencari uang dengan meminta-minta. Menurut penuturannya
kedua orang tuanya sudah meninggal. Awalnya dia tidak mengutarakan penyebabnya.
Sempat saya berpikir mungkinkah kedua orang tuanya meninggal saat konflik? Maka
saya pun tidak menanyakan lagi hal itu. Dia mengaku hanya tinggal bersama
seorang kakaknya yang saat ini duduk di bangku SMA dan abang tertuanya. Saya bertanya
apakah abangnya yang menyuruh dia pergi ke Banda Aceh dan menjadi
peminta-minta. Ternyata dia menjawab tidak, dia pergi kemari karena keinginan
sendiri, ikut teman katanya. Kata Irwan abangnya bekerja sebagai nelayan. Hanya
seminggu sekali saja pulang, itupun tak tentu. Ketika saya bertanya apakah
abangnya tidak memberikan uang untuknya, Irwan mengatakan hanya sesekali, kadang
ada kadang tidak. Sekali lagi saya tak bermaksud skeptis, saya tidak tahu
apakah penuturannya jujur atau tidak. Saya hanya cukup senang anak ini ternyata
bersekolah, itu saja. Ketika saya mengulang pertanyaan tentang orang tuanya,
akhirnya ia mengatakan ayah dan ibunya meninggal karena penyakit diabetes. Bagi
saya itu cukup, yang terpenting bocah kecil yang kurang beruntung ini tidak
menjadi alat orang tuanya untuk mencari uang. Tak lama kemudian nasi briyani
hangat yang sudah dibungkus rapi pun sampai. Sebelum bungkusan itu saya berikan
padanya saya hanya berpesan, dia harus rajin belajar, rajin mendoakan orang
tuanya, jadi orang yang jujur, dan uang yang dia peroleh itu harus dimanfaatkan
untuk keperluan sekolahnya. Ia pun pamit dan menyalami kami sambil mengucap
terima kasih dan doa. Saya mengaminkan dalam hati.
Sepeninggalan bocah itu teman
saya geleng-geleng kepala. Dia masih tak yakin bocah sekecil itu punya
inisiatif sendiri untuk meminta-minta tanpa ada yang mengorganisir. Mungkin ada
benarnya juga pendapat teman saya ini. Tapi saya tidak mau terlalu ambil
pusing, toh saya tidak memberikan uang. Lagipula menurut saya, saat dia tidak
memeroleh uang lalu dia dia meminta makan, mungkin dia memang benar-benar
lapar.
Cerita ini saya tulis tanpa
bermaksud riya’. Saya hanya ingin berbagi kisah dan membuka pandangan kita
bersama bahwa mungkin memang ada orang-orang yang mengorganisir anak-anak
sekecil mereka untuk meminta-minta. Siapa pun mereka, meskipun itu orang
tuanya, mereka harus diberi sanksi karena mengeksploitasi anak di bawah umur.
Ini juga pelajaran untuk kita bersama agar sebaiknya tidak memberikan uang pada
peminta-minta yang masih anak-anak. Alangkah baiknya memberikan makanan. Toh dengan
begitu kita tidak memperkaya orang-orang tak berhati yang mengeksploitasi
mereka. [PA]
1)Hard
news adalah berita penting yang harus disampaikan langsung ke publik dan tidak
bisa ditunda pemberitaannya karena akan cepat basi dan sifatnya aktual
2)Soft
news adalah berita yang dari segi isi tidak terlalu berat, umumnya tidak
terlalu lugas, tidak kaku atau ketat, khususnya dalam soal waktu
3)Mohon
maaf ya, Dik
1
nice story put. btw bagi kue laaa :D :D :D
BalasHapusKakak ini sibuk jalan-jalan sih, kapan mau dibagi kuenya :D
Hapus